Cerpenku


Putri yang Malang
Oleh : Noviana Kus

Disini lagi aku berdiri kaku, seperti 9 tahun yang lalu. Hanya mampu merintih dalam dadaku akan apa yang terjadi pada orang yang… orang yang aku sayangi, lalu kubenci, dan baru hari ini aku sadar kalau aku mencintainya…
Jasad itu lemah, tak lagi berdaya… Tubuhnya tak lebih baik dari orang lain, namun lebih baik daripada beberapa tahun yang lalu. Terakhir kali aku meninggalkannya. Kini matanya yang dulu sedikit juling tak lagi terlihat di bawah kelopak matanya yang terpejam. Mulutnya mampu tertutup rapat tanpa mengeluarkan air liur lagi. Rambutnya yang biasa acak-acakan kini tersisir rapi dan harum. Tangan dan kakinya yang sedikit terpelintir tak terlihat tertutup kain kafan yang putih, baju kebesaran yang harus ia kenakan saat terakhir, saat ia harus kembali kepada Tuhan . Sungguh ia sangat cantik bagaikan putri. Ya, dia Kakakku, Putri.
Putri terlahir dengan sedikit banyak kelainan pada tubuhnya serta cacat mental. Sungguh, dulu aku sangat menyayanginya sewaktu kecil. Tak banyak yang tahu bahwa ia adalah kembaranku. Ia lahir 3 bulan terlebih dahulu, prematur. Sedang aku masih berada di kandungan Ibu hingga 9 bulan waktu yang tepat. Aku tak tau bagaimana jika aku yang terlahir lebih dulu… Dulu orang-orang meragukan bahwa Putri dapat bertahan hidup dengan keadaan seperti itu, serta aku yang masih berada dalam kandungan ibu. Sebenarnya apa salah kami hingga terjadi seperti itu?
Sebenarnya apa salah Putri hingga harus terlahir cacat? Aku pasti telah berpikiran seperti itu jika aku menjadi dirinya, tapi sayang atau untung? Putri mengalami cacat mental, dia tak dapat memikirkan apapun dan tak ada yang tau apa yang dipikirkannya. Kedua telapak tangannya terpelintir, begitu pula kakinya, pergerakannya terbatas dan sulit untuk berjalan. Ia hanya berjalan dengan lututnya. Matanya juling, entah apa yang bisa dilihatnya. Dia tak dapat berbicara karena kelainan pita suara. Kelainan pencernaan membuatnya terus menerus mengeluarkan air liur. Mengenaskan sekali keadaannya. Kalau dipikir-pikir, untuk apa dia hidup?? Ya, dia hidup untuk memberi warna dalam hidupku. Untuk mengajarkanku kesabaran. Untuk mengingatkanku akan masih banyak sekali orang yang kurang seperti dia. Tapi, jika bisa berpikir, mungkin aku memilih mati saja jika jadi dia… 

Hari ini pertama kali aku kembali ke Jakarta setelah menuntaskan wajib belajar 12 tahun, meninggalkan rumah selama 9 tahun, dibuang jauh ke tempat Nenekku di Solo. Sejak meninggalnya ayahku…
Rumahku sama seperti dulu, mungil dan indah, namun agak sedikit lusuh dan banyak barang-barang yang berkurang. Aku memasuki halaman dan menuju ke teras depan, disambut oleh seraut wajah aneh yang termenung. Oh, tidak pantas dikatakan termenung… Apa ya??? Tak taulah! Bajunya penuh dengan air liur dan sapu tangan tersampir rapi di kaosnya. Duduk dengan wajah idiotnya. Masih seperti dulu!
“Putri, hei!” sapaku pada makhluk aneh itu. Sudah beberapa tahun lamanya aku tak pernah dan tak mau bertemu dengannya bahkan hampir melupakannya. Hingga terpaksa aku bertemu dengannya pada hari ini. Aku seperti baru mengenalnya saat kembali lagi kemari.  
“Apa penyakit kamu tambah? Budi ya?!” kataku kesal. Ia masih saja bengong sambil seolah-olah melihat sesuatu dalam dunia khayalnya. Kalau dia bisa berkhayal!? Atau emang dia nggak bisa mendengar lagi?
“Hah!” aku sudah berusaha sabar terhadapnya, sekarang aku ingin mencari Ibu atau Lulu yang harusnya berada disini untuk menjaga si Putri ini. Namun seketika juga ia terkejut lalu tertawa-tawa sendiri.
“Oh, bikin aku emosi aja ternyata?” batinku dalam hati. Mungkin dia mencoba menguji kesabaranku. Apa dia sudah sedikit normal ya? Aku mencoba berbicara dengannya yang sudah sedikit bosan dengan ketawanya yang garing itu.
“Apa kabar Put?” ia tak merespons dan bengong lagi.
“Dimana Ibu dan Lulu?” air liurnya mengalir semakin deras.
“Hah, susah ngomong sama kamu! Ternyata nggak ada peningkatan!” kesabaranku sudah mulai habis lagi saat dia tertawa kembali. Namun kali ini bukan berkhayal! Dia menggamit tanganku dan seakan ingin meloncat-loncat dengan kaki cacatnya.
“Mbak, jangan diganggu …” suara seorang gadis mengagetkanku.
“Ah, kenapa nggak boleh? Dia kan saudara aku sendiri?!” bikin tambah emosi aja anak ini… Dia seumuran Lulu yang baru lulus smp. Apa dia Lulu? Tapi, seingatku Lulu tak seperti itu.
“Saudaranya? Mbak ini siapa?” tanyanya penasaran sambil membawa sepiring bubur dan segelas air minum.
“Devi, kamu sendiri siapa? Mau ngasih makan dia?” aku mengendus gelagat yang mencurigakan darinya.
“Iya, Putri belum sarapan tadi. Aku Laila, tetangga depan rumah. Nyari siapa mbak?” dia malah lebih curiga sama aku kayaknya.
“Aku lagi pulang dari Solo. Ibu sama Lulu mana?”
“Bu Nina sama Lulu tadi ke pasar. Katanya beli makanan buat tamu yang mau datang… Oh, mbak ini tamunya toh?”   
“Iya…. Adiknya Putri, Kakaknya Lulu….” Belum selesai aku berbicara dia sudah memotongnya.
“Sepupu ya?” tebaknya sok tau banget.
“Anaknya Bu Nina!”
“Ooh, Bu Nina punya anak 3 toh?” dia pasang muka terkejut yang lebay banget.
“Heem… Ya udah, aku masuk dulu ya naruh barang-barang. Oh, iya. Lain kali si Putri jangan ditinggal sendirian, nanti kamu bisa mati.”
“Hah? Mati?” dia menggaruk-garuk kepala. Ketombean kayaknya. “Maaf, tadi aku ambilin makanan buat dia. Tapi dia udah biasa ditinggal kok, nggak kemana-mana…” kilahnya. “Ya udah, silakan masuk. Istirahat aja dulu mbak.”
Sebenarnya ini rumah punya siapa ya? Kok aku yang disuruh masuk? Yah, biarlah. Memang telah lama aku tak kemari dan harusnya memang ada yang mempersilahkan masuk. Aku terduduk di ruang tengah, rasa lelah menghampiri tubuhku. Sambil bersandar di sofa, aku memandang ruangan itu…
Dulu, di sudut itu aku meraung menangisi kematian Ayah… Di saat Putri tak dapat mengendalikan diri, ia akan menangis, meraung, meronta-ronta. Ayan. Itu yang membuat aku membencinya. Ayah meninggal karena dia. Bahkan saat aku menangis dan semua keluarga bersedih hati, ia tertawa tergelak karena suatu hal yang tak terterka. Saat itu aku ingin dia saja yang mati.

Saat itu ibu sedang sakit, ayah pun merasa tak enak badan. Namun harus menjemput Putri di sekolahnya yang luar biasa yang berada agak jauh dari rumah. Saat itu aku masih SD kelas 3, dan Lulu masih TK. Dengan keadaan seperti itu, ia tetap disekolahkan di Sekolah Luar Biasa. Dia memang anak yang luar biasa, aku sangat menyayanginya. Dengan keadaan cacat dia bisa bertahan hidup, bahkan tumbuh dan berkembang. Dia bahkan agak lebih gemuk dariku yang berperawakan kecil.
 “Yah, mau aku temenin jemput Kakak?” tanyaku pada Ayah yang beranjak mengeluarkan motor untuk menjemput Putri.
“Nggak usah. Kamu jagain Ibu aja ya, sama Lulu di rumah.” Kata Ayah.
Biasanya aku ikut ayah atau ibu untuk menjemput Putri. Aku yang menjaganya saat ia harus diboncengkan di belakang.
“Bisa nggak Ayah? Tadi katanya pusing? Udah minum aspirin belum?” Tanya ibu yang masih terduduk lesu di sofa.
“Ah, masa jemput anaknya sendiri aja nggak bisa. Nggak usah kebanyakan minum aspirin Bu, nanti bikin ketergantungan lho. Ayah udah biasa pusing kayak gini, gak usah kuwatir… Nanti juga hilang sendiri kok.” Jawab ayah dengan enteng.
“Ibu juga nggak apa-apa kalau di rumah sendiri, biar Devi ikut.” Kata ibu.
“Iya, Yah… Aku juga nggak sabar ketemu Kakak, aku mau main lagi, hehe…” aku biasa bemain dengan Putri, dia dulu menyenangkan sekali saat aku sedang senang-senangnya bermain.
“Kamu itu, jangan ngerjain kakakmu terus dong. Kasihan tau!” ayah sering menasehatiku untuk tidak menjadikannya bahan mainan atau kelinci percobaan. Menempelkan tato, mawarnai kuku, atau bermain dengan alat rias ibu…
“Nanti kalo Ayah nggak balik-balik, minta Om Tomi ke sekolah ya. Siapa tau Putri nggak mau diajak pulang kayak kemarin…” kata-kata terakhir ayah yang kudengar hari itu, menjadi kata-kata terakhir yang aku dengar darinya untuk selamanya.
Ayah langsung tancap gas menuju ke sekolah Putri. Ibu kembali ke kamarnya dan berbaring lagi. Aku bosan menunggu dan akhirnya tidur bersama Lulu.
Entah berapa lama aku tidur, keadaaan sudah sangat berubah sewaktu aku bangun. Siang yang tadinya tenang dan sepi tiba-tiba menjadi sore dan ramai di rumah. Aku keluar kamar dan melihat Ibu berbaring di kasur depan, Putri di sampingnya sedang dijaga oleh seorang tetangga. Tikar tergelar, kursi-kursi ditata berjajar di halaman, tenda didirikan, dan bendera kuning terdapat di depan pagar rumah…
“Tant, ada apa ini?” tanyaku pada Tante Rina yang baru saja menenangkan Putri. Aku mengkhawatirkan Ibu dan langsung ke kasur di ruang tengah.
“Dev, Devi… Kamu baru bangun?” Tante Rina memegang pundakku lalu memelukku erat. “Nggak apa-apa. Kamu bantuin Tante ya, tolong jaga Putri dulu.”
“Tante, ada apa sih?” aku tak sabar.
“Kamu sabar dulu ya, tenangkan hati kamu. Ayah kamu mendapat kecelakaan sewaktu menjemput Putri…”
“Apa? Ayah kecelakaan? Terus Ibu?”
“Ibu kamu nggak apa-apa…”
Apa maksudnya nggak apa-apa?? Itu semua masih menjadi teka-teki buatku ketika semua orang sibuk dan tak ada satupun yang bisa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga terdengar suara mobil ambulans yang datang dan Ibu segera siuman saat mendengar deru ambulans itu…
Segera setelah itu, aku baru mengerti kalau Ayah meninggal. Orang ramai mengangkat jenazah ayah dari mobil ambulans. Aku memeluk Putri yang juga terkejut dan mencoba berlari ke arah orang ramai. Ibu segera bangun dan ayah menggantikan posisinya berbaring di ruang tengah. Aku tak sanggup menahan air mata dan menangis sejadi-jadinya.
Segera setelah itu, ayah dimandikan dan aku mencoba melihatnya dari dekat. Aku hanya mampu berdiri kaku. Kembali menangis sewaktu ayah telah siap dimakamkan. Lalu aku tahu, bahwa kematian Ayah dikarenakan kecelakaan yang menimpanya dan Putri. Kata para tetangga, Putri sedang kumat dan berontak saat ayah menjemputnya. Aku mengerti bahwa ayah saat itu tengah sakit, mungkin konsentrasinya terpecah saat mengendarai motor dan menjaga Putri… Sebuah sedan menabrak ayah dari depan dan Putri melompat ke samping. Akhirnya ayah yang harus meninggal karenanya….
Sejak itu aku membenci Putri. Tak inginkan dia lagi. Dia telah menjadi penyebab meninggalnya ayah karena tak mau diam. Beberapa keluarga di Solo meminta ibu kembali, namun ibu ingin tetap disini dan mengirimkan aku agar beban hidupnya agak ringan. Sembilan tahun yang lalu, hingga aku lulus SMA tahun ini…

“Mbak Devi…” seseorang menyapaku dari luar pintu.
Kukira anak tadi lagi, tapi setelah kuteliti dia adalah adikku, Lulu. “Lu, ibu mana?” aku rindu pada Lulu, tapi lebih-lebih pad ibu.
“Mbak, tega kamu bikin Putri kayak gitu?” Lulu mengatakan hal yang aneh kepadaku. Lalu kembali ke depan rumah.
“Loh, kenapa Lu? Putri… Aku nggak ngapa-ngapain kok! Aku baru aja dateng.”
Tiada kejelasan dalam setiap peristiwa yang aku alami, kecuali aku mencari tau sendiri. Aku kembali ke teras dan melihat ibu mendekap Putri yang sepertinya sedang sekarat. Mulutnya mengeluarkan busa dan matanya terpejam.
“Bu, Putri kenapa?” ada sesuatu yang aneh terjadi disini.
“Kamu kapan pulang Dev? Kenapa kamu biarkan Putri seperti ini?” ibu sama saja dengan Lulu yang menanyakan hal seperti itu padaku. “Kalau kamu membenci dia, nggak seharusnya kamu berbuat seperti ini!”
“Aku baru aja pulang Bu, tadi ada tetangga yang namanya Laila kesini. Dia ngasih Putri makan tadi, jadi aku pikir Putri udah ada yang jagain…” aku berusaha menjelaskan pada ibu.
“Apa? Laila…?” ibu terkejut.
Seorang dokter dan beberapa tetangga datang bersama Lulu dan segera membawa Putri ke dalam rumah. Sisa makanan tadi masih berada di atas meja. Aku ikut masuk dan melihat keadaan Putri. Tak kusangka kedatanganku kembali ke rumah akan menjadi seperti ini.

“Laila itu temanku Kak… Dia yang sering jagain Putri sewaktu aku dan ibu lagi sibuk. Tapi beberapa minggu yang lalu di rumahnya ada kecelakaan, kompornya meledak gara-gara Putri main-main disana. Sejak itu dia nggak kesini lagi, Ibunya meninggal…” Lulu menjelaskan padaku bahwa mungkin Laila berusaha membalas dendam atas kematian ibunya pada Putri.
“Lalu, dimana dia sekarang? Perasaan tadi baru sebentar aku meninggalkannya ke dalam dan kamu datang bersama ibu.” Aku heran mengapa ada orang yang tega dan berani melakukan hal seperti ini pada Putri. 
“Setelah musibah itu dia menghilang, mungkin lari ke jalanan. Soalnya ayahnya seorang penjahat yang nggak pernah menetap hidupnya. Selalu melarikan diri dari kejaran polisi. Entahlah, mengapa ia bisa kembali dan melakukan perbuatan ini!” Kata Lulu dengan sedih. Pantaslah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari kamar dan mengatakan sesatu yang amat mengejutkan. Kami harus merelakan nyawa Putri pergi karena memakan makanan yang sudah diracuni. Setelah Ayah, lalu kini Kakakku Putri yang beranjak meninggalkanku pergi untuk selamanya.
Putri… mengapa selalu kamu yang disalahkan atas kematian seseorang?
Putri… padahal dia hanyalah gadis lugu yang tak tau apa-apa…
Putri… mungkin ini yang terbaik yang bisa mengantarkanmu ke surga-Nya….
Maafkan aku, selama ini telah membencimu, maafkan aku tak bisa berbuat apapun untukmu… Kakakku Putri… Semoga engkau bisa bahagia disana dengan ayah.      

Komentar

Postingan Populer